Puluhan bahkan ratusan orang berkurumun.
Pak polisi, saya boleh jalan lurus? Gabisa Bu. Ada demo. Waduh.
Tapi pak, rumah saya disitu. Saya ga bisa pulang donk.
Ya wes lah Bu tapi hati-hati ya.
Lewat gang dalam saja.
Demo MBG ternyata.
Kalo disuruh memilih, saya pasti pilih hentikan program MBG. Tapi, menghentikannya tidak semudah itu, Ferguso.
Disitu sisi, MBG lah penyebab pemborosan uang negara hingga trilyunan. Dana pendidikan dan kesehatan dikurangi demi MBG tetap bisa jalan.
Dana kesehatan. Obat dibatasi, bahkan beberapa pos layanan seperti cuci darah pun sekarang tidak di cover BPJS. Bayangkan, keluargamu disana tinggal menunggu hari. Habis harta, pertanda akan tamat pula nyawa.
Dana pendidikan. Berapa fasilitas pendidikan yang tak lagi disubsidi pemerintah. Dana penelitian, dll dikurangi. Tinggal tunggu waktu saja negeri ini hancur perlahan.
MBG. Mari kita lihat di lapangan. Seberapa sukses MBG di sekolah favorit ? Ompreng2 hanya dilihat sambil lalu. Jika lauknya cocok, maka ada kemungkinan dimakan sampai bersih. Jika tidak sesuai selera, bahkan ompreng tak akan dibuka.
Disisi lain, MBG membuka lapangan kerja yang cukup menjanjikan. Gaji tetap yg lumayan, jam kerja yg fleksibel, lokasi yg berekatan dgn rumah, membuat sebagian warga pasti pro dgn MBG.
Jadi solusinya bagaimana?
Menurut saya pribadi, seharusnya ada syarat tertentu untuk sekolah yg berhak menerima MBG. Tidak mungkin juga jika MBG diberikan ke sekolah swasta favorit elit yang bayar SPP sebulan, setara dengan gaji karyawan.
Sppg pun harus melalui uji kualifikasi. Mulai dari pemilihan menu oleh para ahli gizi, hingga sajian tampilan makanan yang harus dibuat super kreatif. Anak jaman sekarang, siapa yg akan semangat makan jika saat ompreng dibuka, mereka ketemu telor bulat yg siap dipake bilyard.
Terakhir, saat pengiriman. Pihak sppg harus berkomitmen untuk tepat waktu saat pengiriman. Seringnya, karena banyak sekolah rekanan, hingga dua jam sebelum pulang, makanan baru dikirim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar