Kamis, 07 Maret 2024

day 4 - TRIAL and ERROR



Trial and ERROR

Satu hal yang paling saya sukai saat mengajar adalah saya bisa membuat mereka asyik beraktivitas dan berdiskusi dengan teman sebaya nya. 

Hari ini saya mencoba ide baru dalam materi terkait action verb dan thinking verb pada teks hortatory exposition.

Ide ini saya beri nama "sobek dan tempel."

Pada pertemuan sebelumnya, peserta didik telah mendapat penjelasan terkait language feature action verb dan thinking verb. 

Di pertemuan berikutnya, saya siapkan masing-masing kelompok 2 kertas HVS beda warna, double tape kecil, dan selembar list verb acak.

Setelah membagi siswa menjadi 9 kelompok, saya meminta mereka mengelompokkan verbs yang diberikan, dengan cara menyobek tiap kata, dan mengelompokkan nya serta menempel nya pada kertas HVS warna.

Kemudian dibahas bersama, kata mana saja yang termasuk action verb, dan kata mana yang termasuk thinking verb.

Seruuu banget. Mereka saling berdebat menentukan jenis kata kerja tersebut masuk kelompok mana.

Ok fix. Metode Sobek dan tempel akan saya masukkan dalam varian pembelajaran saya. 

Rabu, 06 Maret 2024

day 3 - JALAN HIDUP


JALAN HIDUP

Pagi yang cerah. Awan tak terlihat barang selembar pun. Burung-burung riuh beterbangan memenuhi langit. Asap kapal Weltevreden mengepul, meredam suara tangis Dolly Zegehvien. 

Dolly tahu, paham benar, bahwa ini adalah kesempatan terakhirnya bertatap muka dengan keluarga tercinta. Sesaat lagi, kapat Belanda ini akan membawanya menuju Indonesia.

Hindia Belanda yang berjarak ribuan mil dari Eropa ini tak hanya mampu menawan hatinya. Pesona negeri lelaki yang menjadi kekasihnya ini bahkan mampu mengubah tanah air dan tumpah darah nya menjadi warga negara Indonesia.
 
Bersambung.  

Selasa, 05 Maret 2024

day 2 - memahami karakter


Belajar Memahami Karakter

Setiap dari kita adalah guru, dan setiap guru harus belajar.

Pelajaran berharga kali ini datang dari salah satu siswa yang acap kali dianggap lakon dikelasnya.

Sebut saja namanya Adam. Saya mengajar di kelas si Adam baru di kelas XI. Awalnya sempat kaget pake banget. Kok ada ya murid model seperti ini? Hampir di setiap jam mapel saya dia selalu tidur. Baju selalu dikeluarkan, tidak pakai sepatu, dan tingkah polah nya yang lain sempat membuat saya naik pitam, namun selalu tertahan.

Satu semester berjalan tidak ada perubahan. Saya pun tak kehabisan akal. Saya putar otak agar tempat duduknya tak lagi di bangku belakang. Juga memisahkan dia dengan dua teman bestinya. 

Kutemukan cara duduk sesuai nilai ulangan harian. Walhasil, si Adam ini duduknya di depan, dekat meja guru. Lega lah saya bisa memantau perkembangan nya. 

Satu bulan berlalu hingga keputusan mengatur tempat duduk model itu tak terlalu bermanfaat. Siswa yang duduk di depan, saat bertanya, tak bisa mendapat jawaban yang memuaskan karena teman duduk di dekat nya setali tiga uang kemampuannya. 

Sharing singkat dengan seorang teman sejawat membawa saya untuk mengubah pola tempat duduk yang berbeda pada ulangan berikutnya. Nilai terendah sebangku dengan nilai tertinggi, dan seterusnya. Hasilnya belum terlihat karena masih dalam proses. 

Namun pada intinya saya menemukan beberapa hal. 
Satu, bahwa memahami karakter siswa itu sangat penting. Siswa dengan sikap yang nyeleneh, biasanya adalah bentukan pola asuh dari keluarganya di rumah.  Seperti apa dia, seperti itu jugalah orang tuanya. Tak bisa kita mengubah dia dalam satu malam.

Dua, siswa yang sering melanggar aturan sekolah, biasanya adalah siswa yang di rumahnya tak ada rasa nyaman penuh kehangatan dan kebahagiaan. Akhirnya, mereka mencari perhatian di sekolah dengan cara mereka sendiri, mencari gara-gara.

Tiga, siswa merasa tidak punya passion di mapel yang kita ampu. Akhirnya bermalas-malasan dan tidur. 

Empat, gurunya monoton. Tidak punya usaha / greget membuat media / materi / model kreatif yang menambah semangat belajar.






Senin, 04 Maret 2024

day-1 Mereka yang tak ada namun masih ada


Mereka yang telah tiada namun ada


Adalah sebuah tradisi di keluarga saya menjelang bulan Ramadhan, yaitu nyekar. 

Nyekar, berkunjung ke makam orang tua / kakek nenek / buyut / saudara yang telah meninggal, bersama dengan seluruh keluarga, rutin kami lakukan. Bukan hanya ikut-ikutan orang-orang, tapi kami khawatir jika anak-anak tak dibiasakan sejak dini, mereka tak akan tahu dan mengenal nenek moyang nya.

Bagi sebagian orang mungkin nyekar adalah hal yang biasa, karena ya hanya itu-itu saja ritualnya. 

Tapi bagi saya, nyekar di keluarga mertua sungguh bukan hal yg biasa. Melainkan perlu persiapan fisik yang kuat. 

Keluarga mertua saya dimakamkan di pemakaman umum di Surabaya. Tepatnya di pemakaman dukuh  Tembok dan Asem Rowo. 

Makam di Surabaya selalu padat, beda dengan pemakaman di desa yang masih jarang-jarang dan ada jaraknya. 

Saking padatnya, mungkin mereka bisa saling bertanya saat malaikat Munkar dan Nakir bertanya di alam kubur sana, kayak anak-anak ulangan semester. 

Pemakaman di Surabaya tidak ada larangan untuk mengkijing atau memberi bangunan permanen penanda makam. Walhasil, keluarga yang empunya makam saling berlomba memasang kijing seenaknya. Ada yang disemen biasa, ada yang dimarmer, atau porselen. Bahkan ada yang dipagari besi malah. 

Tinggi kijing juga berbeda-beda. Ada yang biasa, agak tinggi, dan tinggi banget. 

Akhirnya, saat saya dan keluarga menuju ke makam yang berada di tengah kuburan, kami harus loncat dari satu kijing ke kijing yang lain. Dari kijing rendah ke tinggi, dari tinggi ke tanah, dan seterusnya hingga tiba ke lokasi makam yang dituju. Berkeringat sudah pasti. Senam jantung sehat, anggap saja demikian. Mungkin seharusnya dinas pemakaman mengeluarkan aturan yang tidak merugikan para peziarah, misalnya tidak boleh pasang kijing, atau cukup batu nisan saja sebagai penanda. 

Kalau makam para leluhur tak didatangi rutin setiap tahunnya, bisa dipastikan akan hilang. Mungkin ditumpuk dengan jenazah lain. 

Bagi sebagian orang, mereka yang sudah meninggalkan dunia ini cukup dikirimi doa saja, itupun sudah cukup. Tapi bagi saya dan keluarga, ziarah makam adalah salah satu cara mengingat mereka yang sudah tak ada, namun sebenarnya mereka masih ada, terlebih dalam hati kita. 





Rabu, 14 Februari 2024

ANTRI

Jarum jam berdetak di angka setengah satu dini hari. 
Hening terkoyak oleh suara brrr...brrr...di Musala dekat rumah, pertanda ada warga yang meninggal dunia.

Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un
Semua yang hidup pastilah akan sampai pada ajalnya. Semua antri menunggu panggilan Tuhan.

Tanggal 14 Februari 2024 
Hari valentine. Bertepatan dengan pesta demokrasi, Bulik kar tutup usia. 

Sebenarnya sudah beberapa Minggu yang lalu para tetangga berbisik-bisik kalo Bulik kar mungkin tak lagi lama, hanya tinggal tunggu hari h. 

Sebenarnya Bulik kar hanyalah tetangga biasa. Dia ada pinjaman dengan ibuku yang belum sempat dikembalikan. Jangankan buat bayar piutang, untuk makan saja tak tahu suapan dari siapa. 

Saat yang bersangkutan meninggal dunia, wajib memberi tahu ahli warisnya. Tapi rasa tak tega kembali datang selayaknya hantu gentayangan. Jika tak diberitahukan, kasihan yang berhutang. Jiwanya pastilah belum tenang.  

Kamis, 11 Januari 2024

antologi castle literasi

Biarkan Mereka 

Hari Kamis malam Jumat legi, sering dianggap orang keramat. Begitu juga bagiku, yang diberi Tuhan keunikan bisa melihat mereka yang tak kasat mata. 

Senja itu langit mendung. Matahari tak lagi nampak. Hanya temaram di ufuk barat. Burung-burung beterbangan menyambut datangnya malam. Angin pun tak hendak bertiup seolah menunggu rintik hujan datang. 

Sebut namaku Laksmi. Hobiku menari. Berbagai macam tarian sudah pernah kuperankan. Aku lebih suka menarikan  tari tradisional. Musik daerah bagiku lebih syahdu daripada modern. Musik ini jugalah yang mempertemukan ku dengan Sariyem, seorang penari dari dunia maya. 

Pertemuanku dengan Sariyem bermula saat aku menari Bali di sanggar Cempaka. Gemulai jemarinya beradu dengan lirikan mata yang menusuk sana sini. Jangan pernah memandang matanya, karena kamu bisa buta. 

Sariyem sangat senang jika suara gamelan melantun musik Bali. Dan siapa yang menarikan tari Bali akan dia rasuki tanpa peduli. Susah payah aku bilang padanya, "Lepas.... Pergi... Aku ga mau kamu masuk tubuhku." 
Aku meronta dalam tarian. Amburadul gaya kutarikan. Sebisa mungkin kubuat gerakan baru agar Sariyem tak lagi bisa meniru dan akhirnya melepasku. Tapi kekuatannya tak mampu kuhalau begitu saja. 

"Apa mau mu?" Teriakku kesal saat tari Kecak selesai kubawakan. 

"Aku mau tubuhmu!" santai dia bicara seolah tak punya dosa. "Aku mau tubuh seorang penari." 

"Omong kosong. Manusia dan setan selamanya tak akan pernah bisa bersatu. Kita berbeda. Jangan lupakan itu."

Sariyem menghentak nafas dan mulai mengangkat tangannya. Seketika matanya melirik kiri kanan bergantian. Kenapa pula ? Padahal baru saja kami beristirahat setelah menyambut tamu. 

Sabtu, 04 November 2023

workshop peningkatan mutu pembelajaran

Tema : pembelajaran inovatif berbasis it


Narasumber : Feriyanto, M.Pd
Hari / tgl : Sabtu / 4 November 2023
Judul : Inovasi pembelajaran dengan PDIA

Anda termasuk pola pikir berkembang ato tetap

PDIA

Problem 
Driven