Senin, 11 April 2022

TEMPIAR KASIH - Bag 15

 

Bagian 15



 

SELANGKAH MENUJU PUNCAK

 

 

PoV Sri Sudewi

 

            Ini kali pertama aku menggantikan baginda di sidang pengadilan. Aku harus menunjukkan penampilan terbaik. Pakaianku sudah siap. Riasan wajah dan rambutku pas sekali. Sambil menunggu tim wardrobe  mendandaniku, kubaca berkas-berkas kasus persidangan nanti.

            Kasus pembagian warisan. Lumayanlah. Aku tinggal baca beberapa pasal Kitab Kutaramanawa. Ini kitab hukum undang-undang yang diberlakukan sejak jaman Kerajaan Kadiri. Semua sudah mengalami revisi, disesuaikan dengan perkembangan jaman. Jadilah Kitab Kutaramanawa edisi terbaru ini yang dijadikan standar pengambilan keputusan di sidang pengadilan.

            Aku memasuki ruang sidang dengan langkah mantap, pasti, penuh percaya diri. Tak lama sidang segera dimulai dengan pembacaan perkara, dan diteruskan dengan pemanggilan saksi. Aku lega karena aku tak sendiri. Ada para upatiti (pembantu raja di bidang hukum dan pemerintahan) yang telah siap dengan tugasnya. Jadi aku hanya tinggal ketuk palu saja dan semuanya selesai.

            Sengketa pembagian warisan keluarga kaya raya selalu berakhir  di meja hijau karena perebutan kuasa. Kata salah seorang upatiti, ini bukanlah sidang yang pertama. Jadi keputusan pengadilan yang dipimpin raja, pasti sudah melalui serangkaian penyelidikan dan vonisnya melegakan.

            Yap. tugasku hari ini sukses, beres. Tentulah baginda akan semakin bangga denganku. Benar-benar tak salah dia memilihku. Aku ini memang permaisuri yang dapat diandalkan di segala hal. Aku akan segera menemuinya dan menceritakan pengalamanku hari ini padanya.

            Aku berjalan menuju kamar baginda. Sudah malam rupanya. Sidang pengadilan tadi tak terasa berjalan seharian. Sayup-sayup kudengar beliau sedang berbicara. Aku melangkah pelan, ingin tahu dengan siapa dia bercengkrama. Lagaknya seperti orang yang kasmaran saja.

            Alangkah terkejutnya aku saat kubuka pintu. Baginda tengah bercengkrama ditemani dayang istana yang baru. Ayana namanya. Dialah yang kuberi tugas merawat baginda selama aku menggantikan peran raja dalam urusan negara. Mendidih darahku dibuatnya. Aku capek membantunya, dia malah bersenang-senang disini dengan wanita.

            “Ayana, lekas pergi ke Istana Barat, Ibu Suri memanggilmu!” Kataku ketus sambil meliriknya tajam.

            Seketika ruangan menjadi hening. Baginda raja terlihat tidak senang melihatku datang. Saat ditinggal Ayana pergi, dia diam. Aku pun diam. Aku perempuan. Firasatku mengatakan bahwa baginda mulai tertarik dengan Ayana. Satu hal yang kutakuti. Jika Ayana nanti menjadi selir raja, kemudian dia punya anak dari baginda juga, berarti akan terjadi perang saudara memperebutkan tahta. Anakku atau anaknya!

           

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar