"Kau kenapa, Ken? Kulihat wajahmu ceria hari ini. Ada apa? Tak biasanya," Junko memberanikan diri bertanya.
"Besok bunda dipanggil ke sekolah," ucap Kenzi enteng.
"Haaaa??? Kau bikin kasus lagi?
Kenapa kau ini selalu menyusahkan banyak orang?"
"Biarin aja. Siapa suruh menikah sama ayahku. Masa mau bapaknya ga mau anaknya?"
"Dosa tau ga, Ken?"
"Halah dosa apanya. Ini kan bagian dari tanggung jawab dia mengambil alih posisi mama,"
"Tapi kan mamamu susah tiada, Ken?
"Siapa bilang mamaku sudah ga ada? Jaga mulutmu Jun. Sudahlah aku gamau kita bertengkar gegara hal sepele kayak gini,"
Kenzi tak ingin posisi ibu kandungnya terganti. Baginya, sang mama masih hidup, ada bersamanya. Namun sang ayah tega mencari pengganti tanpa konfirmasi. Ia marah, sedih, sedalam-dalamnya, tapi tak pernah ada kesempatan mengungkapkan perasaan. Akhirnya ia membuat ulah untuk mencari perhatian.
***
Sesampainya di rumah.
"Bun, besok ada panggilan ke sekolah. Nih suratnya,"
"Astaghfirullah Kenzi San, ada apa lagi ini? Tak cukupkah kasusmu di SMP kemarin? Bunda sudah capek,"
"Ya sudah kalo gitu ga usah datang aja,"
Kenzi menjawab enteng, sambil berlalu ke kamarnya, membuka pintu lalu mengunci diri di kamar hingga saat makan malam tiba.
Rasa malas bertemu orang rumah tiba-tiba datang, menghantui bagai mimpi buruk. Kenapa tak ada yang mau memahami perasaan nya. Dia ingin didengar. Ingin diajak bicara. Ingin dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Tapi sejauh ini apa yang didapat? Hanya perintah layaknya wajib militer.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar