Minggu, 06 Juli 2025

UNMEI 14

Bunda Sizuka datang ke sekolah pagi itu. Di ruang BK, Aichiro sensei sudah menunggu. Panjang kali lebar kali tinggi bunda Sizuka mendengarkan penjelasan. Bahwa Kenzi telah melakukan banyak hal yang melanggar aturan. Mengelus dada, hanya itu yang bisa dilakukan sambil merapal doa dalam hati, berharap Kenzi segera sadar.

"Bunda Sizuka, apakah ada yang mau disampaikan?" Aichiro sensei bertanya sebelum mengakhiri pertemuan. 

"Iya sensei. Mohon maaf atas semua kesalahan anak saya. Mohon terus dibimbing agar anak ini tak salah arah. Kami di rumah sudah berusaha keras mendidik, mengarahkan Kenzi. Saya dan ayahnya taknpernah berhenti berdoa. Memang saya ini bukan ibu kandungnya. Tapi saya sudah menganggap Kenzi seperti anak kandung sendiri. Kelas 5 SD saya baru bergabung di keluarga ini setelah ibunya Kenzi meninggal dunia saat Kenzi TK. Ia sepertinya tak ingin ada yang menggantikan posisi ibunya. Sekeras apapun saya berusaha mendekat, hanya hardikan yang saya dapat. Tak mau didekati. Ayahnya memang keras. Mereka berdua tak pernah akur. Saya ditengahnya. Kadang bingung siapa yang harus dibela. Membela Kenzi, musuh saya suami sendiri. Membela ayahnya, saya jadi makin dibenci."

"Bunda Sizuka, saya turut prihatin. Maka dari itu mari kita bersama-sama mendidik Kenzi agar menjadi orang sukses."

***

Pulang sekolah, Kenzi langsung menyambar sepeda motor nya. Seperti orang kesurupan, tergopoh-gopoh ia melarikan kuda besi nya berbelok di tikungan. Brakkk!!! Kenzi menabrak Aichiro sensei yang saat itu hendak menyeberang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar