Minggu, 09 April 2023

camp 2023 - day 6 (9 April) - Shameka


SHAMEKA 

Hidup benar-benar tidak mudah bagi Shameka. Melakukan kesalahan sedikit saja bisa hilang nyawa. Maka kali ini, saat menjadi dayang Sang Ratu Mesir, Cleopatra, ia harus totalitas bekerja. Keluarga baginya hanyalah deretan nama, tiada orang, hanya kenangan. Kepada Raja Marc Anthony dan Ratu Cleopatra, kini dirinya menghamba. 

"Shameka, aku mau mandi. Siapkan air hangat!" Suara Sang Ratu membuyarkan lamunannya.

Tanpa berpikir lama, Shameka segera mengisi bak mandi kayu jati jati yg penuh ukiran disekelilingnya. Air hangat bertabur bunga tujuh rupa siap menyambut Sang Ratu. 

Kehidupan Cleopatra berbalik 180 derajat

Marc Anthony dibunuh Oktavianus, pewaris tahta Julius Caesar

Cleopatra mjd tahanan rumah

Usaha pembunuhan thd Cleopatra

Shameka tetap mendampingi

Hingga sama2 dipatuk ular yg disembunyikan dalam keranjang mangga utk ratu

Sabtu, 08 April 2023

camp 2023 - day 5 (8 April) - Fumiko Sora


Fumiko

Hari ini tepat Fumiko berulang tahun ke lima belas. Buncah bahagia terpancar dari parasnya yang rupawan. Senyum tak sedetikpun hilang dari bibir mungil merahnya. 

Debutnya sebagai seorang geisha pun dimulai. Lima tahun sudah Okaasan (Bahasa Jepang, yang berarti ibu) mempersiapkan putrinya. Dan kini, Fumiko piawai memainkan segalanya. Mulai dari upacara minum teh, menari, memainkan alat musik, dan lainnya. Bahkan untuk berdandan sendiri, Fumiko bisa dibilang ahli di bidangnya. 

Debut Geisha - sukses 

Rival Fumiko - Akiara

Persaingan dengan guna2

Fumiko terjebak 

Fumiko sakit - meninggal dunia

End

Jumat, 07 April 2023

camp 2023 - day 4 (7 April) - Penari Wat Pho


Penari Wat Pho

Purnama mengintip di balik awan hitam. Redupnya menghias kuil Wat Pho di jalan Sanam Chai, Thailand. Gerah udara membuat Aom menguncir rambutnya, diikat hingga ke atas. 

Malam ini adalah hari ke tujuh Aom melakukan persembahan di kuil Buddha berbaring. Ritual khusus ini ia lakukan demi ibunya yang tengah terbaring sakit. Tetua di kampungnya berkata jika ingin ibunya sembuh, Aom harus melakukan persembahan di Wat Pho selama tujuh hari tujuh malam. 

Dan disinilah Aom. Membawa bokor bersepuh emas berisi bunga tujuh rupa sambil mengelilingi Wat Pho, berharap ada titik terang kesembuhan pada ibunya. 

Awan hitam makin berderak menghilang. Kini purnama penuh nampak bulat di angkasa.  Sayup Aom mulai mendengar ada tabuh kruang Don tri Thai, gamelan khas Thailand. 

Kaki Aom bergerak menuju sumber suara. Tepat di belakang kuil, seorang perempuan cantik dengan busana khas Thailand sedang menari dengan anggunnya. Jemari lentik dengan kuku yang dihias memanjang mengatup dan membuka bergantian. Lenggak lenggok tubuhnya gemulai  mengikuti tabuhan. 

Aom terpaku ditempatnya. Betapa indah tarian itu. Takjub, hanya itu kata yang bisa menggambarkan raut wajah ayunya. Baru kali ini Aom bertemu penari sehebat itu. 

Orang-orang yang berkerumun di belakang kuil pemujaan satu persatu undur diri. Juga para biksu. Aom pun baru tahu kalau ternyata biksu juga mengikuti ritual sesembahan macam itu. 

Saat Aom berbalik langkah, tiba-tiba seorang biksu tua menepuk pundaknya. Ia berkata, "Pulanglah nak. Biarkan ibumu beristirahat dengan tenang. Ini adalah salah satu karma yang dia harus lewati di kehidupan ini." 

"Kenapa dengan ibuku, Bapa?" Penasaran Aom bertanya.

"Dua puluh lima tahun yang lalu, ibumu telah berbuat dosa. Ia sedang menebus dosa-dosanya. Sudahlah. Pulang. Jangan biarkan ibumu sendiri. Dampingilah ia di sisa usianya."

Aom pulang - merawat ibu nya - bercerita apa kata biksu

Ibunya bercerita - dulu ia penari Wat Pho - sukses dengan cara meracuni rivalnya

Sebelum mati - rival ibunya mengutuk bahwa ia akan meninggal dengan proses yang menyakitkan

Kutukan bisa dihentikan jika bersujud dibawah kakinya

Rival sdh meninggal - punya anak

Aom diberi misi mencari anak rivalnya - minta maaf

Ibu Aom bisa mati dengan tenang




Bersambung

Kamis, 06 April 2023

camp 2023 - day 3 (6 April) - Sang Ratu


SANG RATU

Hari ini adalah hari pertama Adeline menjejak istana Versailles. Belum pernah sekalipun ia bermimpi akan menjadi dayang putri mahkota Perancis, Marie Antoinette, seorang putri jelita asal Austria. 

Adeline terlihat gugup saat menyisir rambut sang putri. Khawatir jika terlalu keras, sang putri murka. Dan jika saat itu tiba, maka nyawa pun tak lagi berharga.

"Tenanglah. Tidak usah gugup seperti itu. Saat tidak ada orang lain, anggap saja aku ini temanmu. Siapa namamu?" Putri Marie Antoinette membuka percakapan. 

"Hamba Adeline, tuan putri. Maafkan saya, ini hari pertama saya bekerja." Adeline setengah mencicit.

"Ini juga hari pertamaku di Versailles. Jadi, karena kita sama-sama memulai hidup baru, mari kita berteman." 

Putri Marie berkulit putih bersih. Wajahnya semu kemerahan. Rambut coklatnya ikal, panjang, dan halus. Jemarinya lentik. Kukunya semua terawat dengan baik.  Tinggi semampai. Bodinya pun aduhai. Benar-benar seorang putri jelita yang layak dipuja.

Demikianlah putri Marie saat dia pertama kali datang di Perancis, menjadi menantu kebanggaan raja Louis IV. Dielu-elukan sepanjang jalan dari Austria hingga Perancis.

Istana Versailles bisa dikata adalah lambang kemewahan yang sesungguhnya. Langit-langit nya berhias lukisan indah. Dindingnya batu pualam, lantainya marmer. Rancang bangun yang kokoh. Tak akan lekang oleh jaman.

Kemewahan juga menghiasi hari-hari putri Marie, tentu saja bersama Adeline. 


 - kemewahan pula utk Adeline - makanan - pakaian - perhiasan dll

Selama 35 tahun Adeline  melayani Marie - hingga meletus lah revolusi Perancis 

Marie dihukum pancung di guillotine
- Adeline melarikan diri - mencuri menimbun sedikit demi sedikit 

Adeline hidup berkecukupan setelah keluarga raja Perancis dibabat habis

Napoleon Bonaparte berkuasa - Adeline di proses persidangan 

Adeline dijatuhi hukuman penjara seumur hidup

Camp 2023 - Day 2 (5 April) - Sisi Gelap

Sisi Gelap

Liu Liu baru saja tiba. Keringat membasahi parasnya yang ayu bak putri raja. Meskipun lelah raga, namun berulang ia hela nafas lega. Sekeranjang rebung yang didapat, siap menemani keluarganya dalam bersantap. Bahkan bisa berhari-hari. Beruntung ia dilahirkan di Longjin, sebuah desa di pedalaman Hanzhou, Tiongkok. Desa yang mendapat warisan surga, begitu orang berkata. Semua serba ada. 

"Liu Liu cepat bawa rebung itu kemari"! Suara Mama memecah hening.

Tanpa menunggu lama, Liu Liu segera mengangkat rebung-rebung ke dapur. 

Di dapur ternyata Mama sudah siap dengan racikan bumbu. 

"Hari ini rebungnya dimasak apa, Ma? Aku cuci dulu ya. Dipotong bulat ato memanjang?"

"Terserah mau bulat, panjang, ato kotak. Yang penting cepat selesai. Cukup yang mau dimasak saja. Yang lainnya kita proses nanti. Sebentar lagi Ba ba datang. (Mandarin: Ba ba = ayah)"

Lima menit berlalu. Ma ma sudah mengiris semua bumbu. Liu Liu siap memasukkan potongan rebung ketika Ba ba tergopoh-gopoh masuk rumah.

"Liu Liu, cepat sembunyi! Selamatkan dirimu! Tentara Kaisar Hongwu akan menuju kemari. Mereka telah sampai di perbatasan desa. Cepatlah!" 

"Ba ba, ada apa kenapa aku harus sembunyi. Aku tetap disini saja. Aku tak mau meninggalkan Ma ma dan Ba ba." 

"Jangan, Nak! Sembunyilah di tempat rahasia keluarga kita. Lekas bergegas! Banker itu aman. Hutan bambu yang rapat, akan melindungi mu. Cepat!"

Liu Liu segera berlari. Dikejauhan dia mendengar teriakan-teriakan. Mungkin itu tentara Kaisar. Setengah jongkok ia terus berlari. Hutan belakang rumah, sangat ia kenal seluk-beluk nya. Bahkan rumput pun dia hafal dimana dan bagaimana posisi awalnya. Rimbunan pohon bambu dan semak belukar menyambut kedatangan Liu Liu di banker keluarga. 

"Pak Liu Zhong, aku mendengar kau punya putri yang cantik. Cepat bawa kemari. Ini perintah kaisar!"

"Ampun, Tuan. Sejak pagi dia pergi ke pasar dan belum kembali. Tolong jangan bawa dia. Dia anakku satu-satunya. Kaisar sudah punya banyak selir, bukan? Kenapa masih mencari anakku?"

"Jangan banyak bicara! Kaisar butuh selir agar bisa memerintah negeri ini dengan baik. Perintah kaisar adalah perintah langit. Kamu mau menolak? Atau mau kuseret menghadap kaisar?"

Ba ba langsung lemas. Ma ma apalagi. Siapapun tak ingin jadi selir kaisar. Masih hangat dalam ingatan berita yang kemarin beredar dari mulut ke mulut. Di pasar, di warung, juga di jalan masuk desa. Bahwa selir kaisar ada 9.000 jumlahnya. Dan saat ada yang berani melarikan diri, maka hukuman mati menanti. Semua perempuan itu diikat kakinya di penjara emas, tak bisa bebas. Kaki yang jenjang dan halus itu lambat laun tertatih-tatih jika berjalan, karena tak biasa digerakkan. Dan jika Kaisar sedang ingin, maka para pengawal akan membawa wanita itu dengan tandu dalam keadaan tanpa sehelai benang. Sungguh mengerikan. 

 

Selasa, 04 April 2023

Camp 2023 - Day 1 (4 April) - Maria Karimov

Maria Karimov

"Lekas Maria! Cepat lepas kerudungmu!" Setengah berteriak Mama mengingatkanku.

"Iya, Ma. Baik. Aku tidak lupa. Sebentar aku pakai sepatu dulu." balasku sambil berusaha tetap tenang.

Hari ini Mama mengajakku ke pasar. Kebutuhan dapur telah menipis. Stok bahan pangan kian hari kian sulit. Pemerintah membatasi jatah bantuan karena cuaca buruk. Salju longsor menutup beberapa ruas jalan Ibnu Sina. Bahan makanan tak bisa terkirim tepat waktu.

Musim dingin tahun ini begitu menggigit. Gemeretuk gigiku beradu menahan angin. Baju tebal sudah berlapis-lapis, namun tak juga mampu mengusir beku.  

Mama dan aku berangkat ke pasar yang tak jauh dari rumah. Erat Mama memegang lenganku seakan tak mau aku jauh. Disana sini tentara merah mengawasi. Mata elangnya sangat jeli memeriksa satu persatu manusia yang lalu lalang. Siapapun yang melanggar aturan langsung dibawa, diseret tanpa ampun.

Mungkin benar apa yang dikhawatirkan Mama. Kemarin, salah satu tetanggaku pulang tinggal nama, hilang entah kemana. Ayahnya hanya mengingat saat terakhir anaknya memakai tutup kepala putih, khas orang berhaji. Ameer, pastilah ditangkap tentara berbaju doreng dan berbaret merah itu. Mungkin dia lupa melepas atribut keislamannya saat keluar rumah.

Hidup di negeri ini, dengan berpegang teguh pada keyakinan Islam, sangat riskan. Sejak tentara Rusia datang, semua aturan diubah. Tak hanya hukum negara, bahkan hukum agama pun dibuatnya habis tak bersisa. Perlahan, kami dijauhkan dari agama. Bahkan identitas keislaman seperti hijab dan simbol lainnya. Menggunakan atribut keagamaan adalah hal terlarang.

Keluargaku menganut agama Islam sejak jaman nenek moyang. Sendi-sendi dasar keislaman telah berakar kuat dalam masyarakat di setiap lini kehidupan. Bahkan di kota kelahiranku, Samarkhand, terkenal sebagai pusat kebudayaan Islam. Namun kini, semua tinggal cerita masa lalu yang makin lama tak dipedulikan lagi. I

"Maria cepat jalanmu, jangan melamun!" Mama berbisik keras di sampingku.

Sampailah kami di perempatan pasar. Belanjaan kami sudah menumpuk di kerangjang. Mama dan aku siap pulang. 

"Berhenti!"

Deg. Jantungku serasa copot mendengar teriakan itu. Seketika kami menghentikan langkah. Aku sangat ketakutan. Mama semakin erat mencengkeram lenganku. 

"Baju coklat, berhenti! Dua perempuan baju coklat dan abu-abu, berhenti!"

Seketika mataku melihat warna baju mama dan bajuku. Mama memakai sweater coklat. Aku memakai hoodie abu-abu. Jadi, yang dipanggil itu kami. Ya Tuhan lindungilah kami.

"Wanita baju coklat, keluarkan tanganmu dari dalam saku! Baju abu minggir!"

"Tuan, mau kau apakan Mamaku?"
cericitku ketakutan. 

Mama memandang tajam tentara berbaret merah itu, sambil mengeluarkan tangannya dari saku baju. Pandangan matanya mengisyaratkan kebencian. Aku belum pernah melihat Mama dalam kondisi seperti ini.

Aku penasaran apa yang akan dilakukan tentara itu. Namun kulihat Mama mengeluarkan tangan yang salah satu jemarinya dilingkari alat penghitung dzikir. Ya Tuhan...

"Mamaaa.... Mamaaa.." aku menangis segera membayangkan apa yang akan terjadi.

Brakkkk!!! Keranjang belanjaan yang dibawa Mama dilempar. Dan Mama langsung digelandang pergi. Tak hanya satu, tentara itu segera memberitahu yang lain untuk segera membawa Mama pergi. 

"Maria, jangan takut. Kita di jalan yang benar. Allah yang akan menolong Mama. Pulanglah. Doakan Mama. Lekas pulang!"

"Mamaaaaaa....." 

Bagaimana aku bisa pulang, jika di rumah tidak ada dirimu? Bagaimana nanti aku akan melewatkan hari-hari ku tanpa kehadiranmu? Mama adalah separuh nyawaku. 




Minggu, 01 Mei 2022

PALEM PUTRI

 

PALEM PUTRI

 

            Temaram senja mulai menyapa pucuk daun seantero sekolah ini. Pun juga dedaunanku. Angin bertiup samar. Tak kurasa hembusannya di sekujur batang tubuhku. Musim kemarau rupanya masih tak ingin pergi. Trembesi tua di seberangku mulai meranggas. Daunnya berguguran satu demi satu, menyisa kuncup beberapa helai yang masih hijau.

            Langit jingga yang akan segera berganti gelap membuat mereka, para makhluk astral tak kasat mata memulai aktivitasnya. Tahukah anda, para pembaca yang budiman, saat senja berganti malam, sekolah ini bukanlah seperti yang anda lihat di pagi hari. Sebuah real estate mewah nampak begitu mengagumkan, alih-alih sebuah bangunan sekolahan. Lampu sorotnya terang benderang. Kelas-kelas itu berubah menjadi perumahan elit berkonsep minimalis modern yang ditata apik menawan.

            Kompleks perumahan Castle Estate namanya. Membentang dari pintu timur hingga pintu komposting. Dan disini, di tempatku berdiri, tepat di kaki jajaran pohon palem putri, Cafe “Caste” buka mulai jam 6 sore hingga jam 4 pagi.

            Di meja nomor tujuh, empat kuntilanak ABG sedang merayakan girls day out. Meja mereka penuh aneka makanan khas remaja kekinian. Ada cacing crispy, burger kroto, mie setan kelabang, bakso mercon ulat, dan jus darah.  Gelak tawa mereka sampai terdengar ke lampu merah depan jalan. Seru sekali. Aku penasaran apa yang mereka rumpikan.

            “Gais, kalian tau ga. Mulai besok, sekolah ini tutup. Semua anak manusia daring. Dan itu ga tau sampai kapan. Bisa jadi setahun kedepan.” kata Marimar, kuntilanak ABG yang berambut panjang terurai hingga lantai.

            “Beneran? Serius? Omaigat! Kita bisa party sepanjang hari, donk. Yippiii...!” Corazon berseru gembira. Dia satu-satunya kuntilanak ABG  yang rambutnya di cat pink!

            “Emang ada apa, Mar? Guru-guru manusia ada rapat? Study Tour?” kali ini giliran Daniela kepo.

            “Ah kalian ini out of date banget, sih?” Rosangela ga mau kalah. “Virus Corona sudah sampai ke negara kita, Indocastle. Di Kabupaten Castelica kita ini aja sudah 53 korbannya. Kamu tau Pak Armando Guiterezz? Yang tinggal di Castle Estate blok CA itu kemarin sudah dijemput ambulance dengan petugas ber-APD.”

            Mereka berempat asyik ngerumpi hingga akhirnya lonceng jam di aula besar berdentang di angka 4 pagi. Tuh kan, dasar cewek. Kalo sudah ngumpul, suka lupa waktu. Tumben kali ini rumpiannya bermutu. Padahal biasanya semua keluarga besar sekolah ini dighibahin. Mulai dari pak satpam gerbang depan, guru-guru, siswa-siswi, karyawan TU, tukang kebun, OB, sampai ibu kantin semua dilalap habis. Sungguh betapa Tuhan Maha Pencipta yang hebat segalanya. Mulut dipakai ngomong enam jam tak ada habisnya kok masih sama bentuknya. Tidak keriting, ndower, ataupun lumutan.

***

            Semburat sinar surya malu-malu menampakkan rupa. Langit yang tadinya gelap, perlahan terang, menghapus malam yang tengah naik ke peraduan. Tak menunggu waktu lama, matahari kelihatan dari kejauhan. Namun sekolah ini tetap saja sepi. Aku sudah siap menyongsong kedatangan anak-anak manusia, siswa-siswi SMA Negeri 1 Puri. Hingga siang tak satupun anak manusia datang. Lapangan upacara sepi. Kelas-kelas senyap. Aula kosong. Kantin melompong. 

***

            Sekian purnama sudah aku kesepian.  Tak ada celoteh, rumpian, canda ria, gelak tawa, ataupun isak pilu, yang biasanya kerap kudengar. Aku rindu. Sangat rindu. Tak bisa kubayangkan rasanya belajar sendiri. Meskipun teknologi sudah sedemikian maju, namun tak ada yang bisa mengalahkan peran guru. Pembelajaran jarak jauh sangat bergantung pada konsep cara belajar mandiri. Guru membuat modul, merekam video,  atau memberikan link youtube materi pembelajaran. Kemudian dibagikan di grup whatsapp, lewat google classroom, ataupun quipper school. Dan kupikir model seperti ini hanya dapat diterapkan pada pembelajar dewasa. Mahasiswa misalnya. Namun di tingkat dasar dan menengah, peran guru mutlak diperlukan. Sangat malah. Darimana mereka belajar karakter disiplin, tanggung jawab, toleransi, saling menghargai, jika hanya bertemu di dunia virtual saja. Mereka butuh sosok guru yang tak hanya menerangkan materi pelajaran, namun juga mengarahkan, membimbing, dan membina sikap peserta didik agar cerdas dalam berpikir, bijak dalam bertindak, serta dewasa berperilaku.