Rabu, 13 Maret 2024

DAY 2 POETRY ONLINE CAMP - RINDU

RINDUKU 

Andai bisa kusibak waktu
Kuingin kembali dimasa itu
Saat dimana aku hanya satu
Tak ada yang lain selain diriku

Teriakanmu
Marahmu
Sayangmu
Diammu

Kini semuanya sudah tak ada
Kemana kuharus mencarinya
Bahkan sosokmu pun tiada
Hanya dalam mimpi bisa jumpa

Saat rindu mendera
Pada siapa melabuhkannya
Tanah makammu sudah rata
Namun kau tak pula disana

Mungkin pada angin 
Bisa kutitip rindu yang menggebu

Mungkin pada awan
Bisa kukirim bait cinta panjang

Mungkin pada hujan 
Bisa kusemat kasih yang belum usai

Mungkin rembulan 
Bisa menolongku berjumpa dengan mu





Selasa, 12 Maret 2024

DAY 1 POETRY ONLINE CAMP - TENTANG KAMU

Tentang Kamu 

Sesal tercipta
Saat kau bilang tak ada kata "kita"
Mengapa
Setelah ada rasa sekian purnama 

Aku tak pandai merakit kata
Isi hatimu kubalas senyum biasa
Aku tak beri jawab juga
Namun sebenarnya rasaku sama

Kamu adalah yang pertama
Di hatiku saat itu kaulah rajanya
Hariku penuh bunga
Hanya indah dunia kurasa

Namun setelah sekian purnama
Tiba-tiba kau kata sudah punya
Entah perempuan mana
Dan aku mulai gila

Kehilanganmu sama dengan mati
Duniaku jadi sepi
Gelap buram tak ada arti
Namun aku harus relakan kau pergi





day 9 - operasi Caesar


Pilih mana : melahirkan normal ataukah operasi Caesar ?

Melahirkan secara normal saya lalui pada anak pertama dan kedua. Sakitnya melahirkan itu ibarat seribu kali mulesnya orang sakit perut biasa. Dan mules itu cuma awal. Bayangkan. Cuma awal!!! Alias hanya bukaan satu. Padahal jumlah nya sepuluh!!! Bayangkan. Seribu mules cuma bukaan satu. Jadi kalo ditotal, saat bayi keluar, sepuluh ribu mules harus dilalui dulu. Masyaallah...

Pantas saja jika seorang ibu meninggal dunia saat melahirkan diganjar surga. Allah benar-benar sangat adil. Perjuangan hidup dan mati  seorang ibu melahirkan amanah yang dititipkan Allah padanya. 

Saat sepuluh ribu mules telah dilalui, artinya pintu lahir telah terbuka secara sempurna. Dan perjuangan itu belum selesai sodara-sodara!!!
Sang ibu masih harus mengejan sekuat tenaga. Ambil nafas, mengejan. Ambil nafas, mengejan. Begitu seterusnya hingga si bayi nampak kepalanya dan meluncur keluar ditangkap dokter atau bidan yang membantu persalinan.

Selesai??? Belum. Pasca bayi keluar, dokter akan memasukkan tangannya ke dalam rahim untuk mengeluarkan sisa-sisa darah atau kotoran lain yang masih ada. Korah-korah ? Ampun dah. Ledeh banget rasanya sudah itu bagian bawah. 

Selesai??? Beluuummm... Kok suweee... Iya emang...
Kini saatnya penjahitan. Robekan yang amba tadi kemudian dijahit. Sriwing- Sriwing ngilu rasanya. Dan itu mengapa dijahit sudah tak lagi sakit??? Mungkin karena tak sebanding dengan sepuluh ribu mules tadi.

Yupp...selesai. 
Alhamdulillah... Sehat dan selamat  ibu serta bayinya. 

Anak ketiga. Giliran melahirkan normal tak mungkin dilakukan. Tekanan darah tinggi yang tak pernah mau turun membuat dokter tak mau beresiko memberi ijin melahirkan normal. 

Oke fix. Harus operasi Caesar. Siapkan dana. Karena biaya operasi Caesar tidak semurah melahirkan normal.

Belum sembilan bulan usia kandungan saya tapi perut kok sudah mules ya. Cek ricek pake tisu ternyata sudah pendarahan. Panik banget. 

Setelah cek ke dokter kandungan, dia bilang si bayi lagi stress. Ditahan dulu ya Bu, bayinya. Jangan boleh keluar. Lohhhh... Mana bisa ditahan??? Hallooo siapa bisa nahan buang air besar hayooo???

Oke fix. Habis jumatan operasi. Tapi tekanan darah harus normal dulu. Bagaimana cara nya ?
Mbak suster kasih cairan penurun tekanan darah. Rasanya???? Panassss menjalari seluruh tubuh. Kayak dibakar. AC ruangan yang dingin saya bilang mati, tolong dihidupkan. Mungkin rusak. Padahal orang lain kedinginan.

Habis dokter jumatan, saya digeledek masuk ruang operasi. Alfatihah dan istighfar terusss. Takut nanti kenapa-kenapa. 

Bu, membungkuk melungker peluk Bantal ya. Tulang belakang disuntik bius. Cussss...
Sesaat kemudian, perawat nyubit2 kaki. Eh ngapain sih mbak nya? Ternyata....ngecek reaksi bius. 
Saat kaki sudah tak ada rasa. Dimulailah Caesar itu. Saya ga tau detailnya karena tak mati rasa. Bius separuh badan. 

Ok sudah selesai. Duh enak banget ya kalo SC itu. Ga sakit sama sekali.

Ibu hari ini harus latihan duduk dan jalan ya. Siap suster. 

Saat mencoba duduk. Wdidawwww kenapa sakiiitttt banget nyeriiii di jahitan perut... Alamakkkk 
Apalagi dipakai jalan. Ke kamar mandi saja, saya perlu waktu lima menit. Padahal itu kamar mandi ada di dalam kamar lohhh. Perut rasanya mau jatuh semua isinya. Usus dan lainnya berasa berebutan mau jebol. Luar biasaaaa ...

Jadi kesimpulannya, baik itu normal ataupun Caesar, keduanya sama-sama sakit sodara-sodara... 

Cuma bedanya, kalo secara normal sakitnya sebelum bayi keluar. Kalo SC, setelah bayi keluar.

Kalo disuruh milih, mending yang normal saja deh.... Soalnya, durasi sakitnya lebih singkat. 

Meskipun demikian apapun cara melahirkan nya, tetap wajib dijalani sepenuh hati. Jangan sampai tak mau memilih, kasihan bayinya mosok didalam terus... Hihihi




Senin, 11 Maret 2024

day 8 - Jelang Ramadhan di makam bapak dan ibu


Jelang Ramadhan di makam bapak dan ibu

Sore yang cerah setelah seharian mendung. Aku dan adikku, juga para keponakan, nyekar ke makam bapak dan ibu. 

Makam bapak dan ibu berdekatan. Alhamdulillah memudahkan kami untuk berkumpul berdoa bersama. 

Sudah 8 tahun bapak pergi meninggalkan dunia ini. Sedangkan ibu baru 3 tahun yang lalu. Lama banget rasanya. 

Puasa dan hari raya tanpa ada orang tua di sisi kita adalah suatu hal yang menyesakkan dada. Setelah salat idul Fitri apalagi. Kebiasaan sungkem dengan bapak ibu kini sudah tak lagi ada. Rasanya hampa. Bagai anak ayam kehilangan induknya. Saat adik-adik dan para keponakan berkumpul pun, loading sejenak, seperti ada yang kurang. 

Bapak dan ibu bagiku adalah dua pribadi dengan sifat berkebalikan. Keduanya saling melengkapi. Selalu ada hal positif dari beliau berdua yang bisa dijadikan panutan. 

Bapak selalu mencontohkan salat wajib yang tepat waktu dan berjamaah dengan ibu. Juga saat salat tahajud di malam hari. 

Sedangkan ibu selalu tersenyum, penuh kesabaran, dan tak pernah pelit uang. 

Bulan puasa biasanya ibu mengajakku belanja kebutuhan lebaran. Mulai dari baju baru orang serumah, hingga persiapan kue-kue hari raya. Belanja dengan ibu aku bisa minta apapun keinginanku. Ah... Aku jadi kangen ibu. 

Semoga bapak dan ibu bahagia di sisi Nya

Minggu, 10 Maret 2024

day 7 - Mbah Kakung part 2



Cerita baru tentang Mbah Kakung hari ini kudapat dari Bulik. 

Sedikit rasa penasaranku terjawab. Mengapa sih Mbah Kakung di jaman segitu, era penjajahan Belanda, kok punya pikiran naik haji?

Karena Mbah Kakung itu mondok sejak kecil hingga menikah. Ibunya meninggal sejak Mbah Kakung masih kecil. Petak sawah yang diwariskan padanya disewakan. Uangnya untuk biaya mondok. Subhanallah. Salut banget buat Mbah Kakung ku. 

Mbah Kakung mondok hingga usia 40 tahun. Setelah itu menikah dengan Mbah Putri yang usianya baru 14 tahun. Wowww jarak usia yang sangat fantastis. Pantas saja Mbah Kakung ngemong. 

Hasil pernikahannya juga cukup fantastis. Setiap dua tahun sekali, Mbah Putri hamil. Tiga belas jumlah anaknya kalau dihitung. Dan Mbah Kakung yang siap siaga momong semua anaknya, selain pergi bekerja di sawah. 


Sabtu, 09 Maret 2024

day 6 - Mbah kung


Mbah Kung

Namanya Mbah haji Abdul Chamid. Begitu  banyak orang menyebutnya. Sebenarnya aku tak begitu tahu banyak cerita tentang Mbah Kakung. Hanya beberapa saja. Itupun secuil demi secuil kudapat dari pakde bude paklik dan Bulik. 

Mbah kung dikenal sebagai pribadi yang sabar, juga tak banyak bicara. Berbeda dengan Mbah Putri yang banyak omong, cerewet seperti kebanyakan kaum perempuan lainnya. 

Mbah Kakung sudah melaksanakan haji sejak jaman Belanda. Aku bertanya ke bulik, bagaimana bisa Mbah Kakung yang seorang petani desa naik haji. Apalagi jaman dahulu naik haji itu bagaikan pergi yang tak bisa diharapkan kembali. 

Mbah Kakung dulu bertani bawang merah. Saat panen, harganya sangat tinggi, karena waktu itu tak banyak orang yang bertani bawang merah. Akhirnya Mbah Kakung bisa naik haji.

Aku bisa membayangkan Mbah Kakung naik haji saat membaca novel Tere Liye yang berjudul rindu. Dalam novel tersebut dikisahkan perjalanan tokoh utama saat menjalankan ibadah haji di era penjajahan Belanda. Naik hajinya tidak pakai pesawat seperti sekarang. Tentu saja. Tapi naik kapal laut!!! Sebulan perjalanan berangkat terombang-ambing dilautan lepas. Hanya beberapa kali saja singgah untuk bongkar muatan dan mengisi bahan bakar. Kapal melaju mulai dari Sulawesi, menuju pulau Jawa, menyeberang selat lalu menyisir pulau Sumatera. Kemudian lanjut menuju pesisir India hingga tiba di tanah suci.

Bagaimana jika ada salah satu awak kapal yang meninggal dunia ditengah perjalanan? Yaaa... Diceburkan kelaut!!! Sebelumnya jenazah dimandikan, dikafani, dan disalati seperti biasa. Sebelum diceburkan kelaut, jenazah diberi alat pemberat agar tenggelam dilautan, tidak mengambang lagi. Mendebarkan. Mengharukan.

Kembali ke kisah Mbah Kakung. Tak seorangpun menyangka setelah tiga bulan lebih menunaikan ibadah haji, Mbah Kakung kembali. Aku menyesal kenapa aku tak pernah berjumpa dengan beliau dan bercakap-cakap tentang masa lalu. Pasti seru sekali. Aku selalu penasaran bagaimana rasanya hidup di era penjajahan Belanda dan Jepang.

Cerita lainnya. Mbah Kakung dan Mbah Putri ternyata saudara sepupu!!! Mbah Kakung adalah anak kakak tertua, sedangkan Mbah Putri adalah anak adik termuda. Usia mereka terpaut jauh. Itulah mengapa Mbah Kakung sangat ngemong Mbah Putri.

Menjelang meninggal, Mbah Kakung tidak menunjukkan tanda-tanda apa-apa. Malam itu bersiap tidur seperti biasanya. Dan tiba-tiba meninggal begitu saja pagi esok hari.

Semoga Mbah Kakung dan Mbah Putri dirahmati Allah dan diberikan tempat terbaik disisiNya 

Jika ada cerita lain tentang Mbah Kakung akan kutambah dilain waktu.




day 5 - adikku

Adikku

Pakai baju merah dan beruban banyak. Semua orang mengira dia kakakku. Mungkin karena uban. Siapa yang paling banyak ubannya berarti paling tua. Padahal dia sebenarnya adikku yang paling bungsu. 

Dulu, saat kami masih kecil, adikku yang satu ini paling resekkk. Mentang-mentang paling kecil, selalu dilindungi bapak sama ibuk, dia seenaknya sendiri. Selalu minta memanglah pokoknya. 

Jarak usiaku dengannya bisa dibilang lumayan jauh, delapan tahun. Jadi aku sering disuruh momong, ngajak bermain, ngawasi, dan seabrek suruhan-suruhan lainnya yang membuatku tak bisa bermain dengan teman-teman sebayaku.

Pernah dulu dia hampir aku cekik saking jengkelnya, tapi aku lupa karena masalah apa. Yang jelas bapak ibuk sedang tak dirumah. Dia merengek minta apa dan aku tak mau mengabulkan permintaanya. 

Bapak ibuk dulu sangat memanjakannya, menurutku. Karena waktu aku sekecil dia, tak pernah dituruti apa mauku. Tapi eh giliran dia seusiaku, loss gass gapake ini itu langsung iya. 

Sampai dia besar, dia masih tidur bareng bapak ibuk. Kalo ga dikeloni ibuk dia ga bisa tidur. Ah dasar anak mama. 

Ibukku juga bisa sabar banget sama dia. Pernah waktu dia ngamuk dijalan minta sesuatu tapi belum dibelikan, jilbab ibuk ditarik sampai lepas. Malu donk dilihat orang. Tapi ibuk lho ga marah. Duh, cobak kalo aku yang merengek, pasti tambah ajur mumur dikabyuk ibuk, ditambah bapak kalo dilapori kenakalanku.

Adikku ini pemalas sekali aslinya. Tapi tak cuma dia. Adikku yang lain dan kakakku sebenarnya sama saja. Tak mau pekerjaan rumah. Tapi aku maklum saja, saat itu dia SMA, banyak kegiatan yang menyita waktu hingga pulang ke rumah hanya untuk makan dan tidur.

Adikku ini ga pernah belajar. Kalo malam, dia memang sih buka buku semacam orang belajar, sambil tengkurap. Tapi tak sampai sepuluh menit dia pasti sudah ngorok ngiler pisan. Tapi harus aku akui meskipun dia ga pernah belajar, dia selalu rangking atas. Mungkin ini yang namanya kecerdasan given.