Kamis, 17 Juli 2025

LACHLAN 11

Lachland bertanya padaku dimana sebaiknya ia memasang chip pendeteksi projectnya. 

Setelah berkeliling kastil tadi, aura gelap kurasakan di sekitar pintu masuk. Atmosfir tak lazim semakin pekat saat awan hitam berarak tepat di atas kastil. Suasana mencekam sangat terasa. Instingku berkata ini adalah saat yang tepat jika ingin menembus alam lain.

Kusarankan Lachlan untuk segera memasang chip di lorong dinding batu bekas pintu masuk kastil. 

Sigap dikeluarkan nya tablet untuk memulai kerja chip. Tak lama, apa yang semula kupikirkan sungguh terjadi. 

Lengkungan pintu tiba-tiba gelap. Tak lama kemudian muncul garis-garis transparan memenuhi sekujur pintu. 

Aku memekik girang, "Lachlan, kita berhasillll. Yeayyyy," 

"Kau mau ikut masuk ke dalam? Aku ingin memeriksa ada apa di sana."

Kuanggukkan kepala cepat saat Lachlan berhenti berkata. Penasaran banget dengan project ini. 

Kami berdua segera melangkahkan kaki masuk melewati pintu.




LACHLAN 10

Tiba di Kastil Sween. Cuaca kabut, mendung, dan dingin menyambut kedatangan kami. Kesan suram dan menakutkan nampak pada kastil tertua di Scotlandia ini. Dindingnya terbuat dari batu kali hitam yang besar, ditata melingkar  membentuk menara. Ada juga reruntuhan kastil berbentuk istana namun tak ada atap. 

Sekali lagi kurapatkan jaket tebal dan syal. Juga topi rajut hingga penutup telinga. Meskipun tiada salju, tapi dinginnya benar-benar ga main-main. Kopi panas langsung dingin saat sampai di bibir. Harus terus bergerak biar ga jadi es batu. 

Kulihat Lachlan sepertinya tak sedikitpun merasakan hawa dingin. Mungkin dia sudah terbiasa. Lahir dan besar di negerinya sendiri, jelas ia sudah beradaptasi sejak bayi. Sangat jauh beda denganku yang terbiasa iklim tropis. 





Selasa, 15 Juli 2025

LACHLAN 9

Pagi, saat matahari mulai bangun dari peraduannya, aku dan Lachlan telah siap menjejakkan kaki ke penjuru kastil.

LACHLAN 8

Kastil Sween sore itu gelap dan berkabut. Ditambah rintik gerimis yang tiada henti, semakin menambah kesan mistis dan horor kastil tertua di Scotlandia ini. Dibangun seribu tahun yang lalu dan masih berdiri kokoh hingga kini, menjadikan Kastil Sween salah satu destinasi wisata sejarah terfavorit di negeri berbahasa Gaelik ini.

Lachlan dan aku menyewa hostel didekat kastil selama beberapa hari ke depan. Project uji coba hologram nya telah menanti. 

Sore ini terlalu larut buat kami untuk langsung in action. Kami memutuskan untuk beristirahat sambil menunggu esok datang. Setelah check in, kami berdua langsung masuk ke kamar masing-masing. Perjalanan enam jam dari Edinburgh ke Sween membutuhkan waktu hampir enam jam. Lelah perjalanan seolah terobati saat tubuh berbaring di kasur hostel yang nyaman. Mandi air panas rupanya sangat membantu hilangkan penat. 



Minggu, 13 Juli 2025

LACHLAN 7

Lambat Laun, aku dan Lachlan menemukan satu kesamaan: penasaran dengan masa lalu bangsa Scotlandia, nenek moyang Lachland. Projectnya berjudul "Kembali Ke Masa Lalu Melalui Hologram di Kastil Sween". Kastil ini adalah yang tertua di Scotlandia. 

Rasa penasaran membawa kami pada suatu penjelajahan waktu yang tak berujung. 

Pada suatu hari di taman kampus, Lachlan bilang, "Marie, Minggu depan aku mau ke Sween. Apakah kamu mau ikut denganku? Aku mau menguji cabakan penemuanku. Kurasa, aku tahu tempat yang tepat."

"Tentu saja Lachlan. Aku selalu ikut kemanapun kau pergi."

LACHLAN 6

Lachlan bilang ia siap membantuku kapanpun karena aku orang rantau jauh. Aku senang sekali. apalagi Lachlan ini orangnya ganteng dan pintar. My type banget pokoknya. 

Lachlan mahasiswa jurusan teknik komputer universitas Edinburgh. Kampusnya bersebelahan dengan kampusku. Disini semua fakultas jadi satu dalam lingkungan Universitas Edinburgh. 

Lachlan sangat ahli di bidang pemrograman. Bahkan kadang aku dan dia seminggu ga ketemu gegara dia lagi asyik dengan project nya. Saat ini Ia sedang mengembangkan software untuk mendeteksi suku viking di masa lalu. Pas sekali. Cocok dengan passionku bukan?

Kami sering berdiskusi di kantin. Lachlan mendesain program, aku yang memberi masukan ide berdasarkan sejarah masa lalu. 


LACHLAN 5

Hari ini, mata kuliah pengantar sejarah Mediterania berakhir. Profesor Anthony memberi tugas riset sejarah abad pertengahan yang ada di Scotlandia. Baru pertama ketemu langsung tancap gas. 

Aku pikir, aku akan banyak dapat ide di perpustakaan. Jadi segera aku beranjak menuju perpustakaan digital buat mencari referensi. Iya, perpustakaan disini ada 2. Yang satu perpustakaan eksemplar namnya, berisi buku, sangat banyak sekali, mulai dari awal universitas ini berdiri hingga sekarang. Satunya lagi perpustakaan digital, tempat semua e book, jurnal ilmiah , laporan penelitian, dan layanan gratis dunia maya. 

Kutempelkan kartu mahasiswa di pintu masuk perpustakaan. Terbuka otomatis. Ya, disini kau harus punya kartu mahasiswa buat masuk ke semua fasilitas kampus. Perpustakaan eksemplar, perpustakaan digital, kantin, tempat gym, kolam renang, dan seabreg fasilitas pendukung mahasiswa, semua lengkap ada di kampus berukuran 5 hektar ini. Luas banget pokoknya.

Saat aku masuk ke perpustakaan, kembali aku tap kartu mahasiswa untuk mengisi buku tamu. Keren, ga pakai nulis! Tanpa petugas. Semuanya tertata rapi, secara mandiri. Hampir seluruhnya menggunakan sistem yang canggih. 

Aku memilih komputer di pinggir. Di sebelahku ada seorang mahasiswa yang sudah asyik dengan komputernya. 

Aku mencari tombol power buat menyalakan komputer di depanku. Tapi kok ga ada ya? Gimana caranya? 

Aku kehabisan akal. Akhirnya kuberanikan diri bertanya pada mahasiswa di sebelahku. 

"Pardon, apakah aku bisa mengganggumu sebentar? This computer, how to click the power on?" aku berasa jadi orang dusun yang sangat jadul. Ga tau apa-apa. 

"Ah, of course. just tap your id card over here " katanya sambil nunjuk ke lampu monitor. 

Ya Tuhan. Secanggih itu. Dan aku lupa kesaktian kartu mahasiswa ku. Ya . Ya. Ya. Semua serba tap. 

Hingga aku selesai mencari referensi, mahasiswa itu masih disana. Biar dianggap sopan, aku berpamitan.

"I have finished my job. Thank you for helping me. See you."

"My pleasure," dia menjawab.

"Wait, aku sudah selesai juga. Mau keluar bareng?" 

"Well, that sounds good. Baiklah,"

Kami berjalan keluar perpustakaan.  

"Kita belum berkenalan. Namaku Lachlan. Kamu siapa? Kayaknya kamu bukan orang Scotlandia. Wajahmu sangat Asia," 

Aku tersenyum gugup. 

"Namaku Marie. I come from Indonesia. Yeah, you are right. This is my first time going to Scotland and studying here," 

LACHLAN 4

Berbagai persiapan kuliah di negeri Alba telah kulakukan sejak dini. Termasuk les bahasa Inggris di EF. 
Mau tak mau aku harus berjuang keras. Lebih keras bahkan, dari teman-teman sebayaku. Setiap hari sepulang sekolah, aku langsung menaiki bus trans untuk membawaku ke kota metropolitan buat les bahasa Inggris. Dan hal itu kulakukan selama tiga tahun. Panas kugadaikan, badai kuterjang. Aku harus berhasil mewujudkan impian.

Dan semua lelah sekarang terbayarkan sudah. Lunas dibayar ditambah bonusnya sekalian. Ya benar. Aku mendapat beasiswa penuh undergraduate program kuliah di Universitas Edinburgh jurusan Sejarah Klasik. Sesuai keinginanku. 

LACHLAN 3

Dari dulu aku sangat menyukai pelajaran sejarah. Ditambah kecintaanku tentang Scotlandia gegara film kartun candy candy, jadilah aku sekarang berdiri di sini. 

Scotlandia selalu berkabut, dingin, dan romantis. Semua yang kulihat di foto dan video melalui dunia maya, kini kusaksikan langsung dengan mata kepala sendiri. 

Bangunan Universitas Edinburgh yang  bergaya Eropa abad pertengahan mampu memikat hatiku sejak awal. Meskipun desainnya jadul, namun begitu kaki melangkah ke dalam, rasa tercengang akan menyergap. Perpaduan keren antara masa lalu dan masa kini membuat Edinburgh selalu menjadi favorit mahasiswa untuk kuliah di sana. 

LACHLAN 2

Tak bosan kucari informasi. Lewat guru, internet, juga komunitas pencari beasiswa. Di akhir aku duduk di kelas XII, kumantapkan hatiku memilih Universitas Edinburgh, Scotlandia, jurusan  sejarah, klasik, dan arkeologi. Aku sangat bersyukur. Papa dan mama sangat mendukung keputusanku. Bahkan mereka mengantarkan aku sampai ke negeri Caledonia ini. 

Sabtu, 12 Juli 2025

LACHLAN 1

Scotlandia, disanalah cerita ini bermula. Sebuah takdir yang mempertemukan aku dan Lachlan.

Aku tak pernah bermimpi bisa jatuh cinta dengan Lachlan. Ia seorang mahasiswa jurusan teknik informatika universitas Scotlandia. Sedangkan aku jurusan sejarah. 

Sejak kecil, aku bercita-cita kuliah di Scotlandia, negara bagian UK. Bukan tanpa sebab. Saat aku remaja, di televisi sedang diputar serial kartun candy candy. Ia bertemu dengan Anthony, sang pujaan hati. Latar negeri Scotlandia dengan musiknya yang mengharu biru sangat berkesan di benakku. Hingga saat SMA aku memutuskan pergi kesana untuk melanjutkan studi 

Jumat, 11 Juli 2025

UNMEi 18

"Sabarlah nak. Kau ini masih belum pulih benar. Seminggu koma terbaring di rumah sakit. Pelan-pelan saja. Alhamdulillah ya Tuhan. Subhanallah. Terimakasih masih memberi kami kesempatan."

Tak henti-henti ibu Masako berucap syukur. Meskipun bukan anak kandung, tapi rasa sayangnya pada Kenzi tak kalah dengan mama Arumi. Tiap hari menunggu di ICU. Menggenggam tangan Kenzi sembari merapal doa-doa. Berharap Tuhan berbaik hati, memberikan kesempatan memperbaiki semuanya. 

"Kenzi sayang. Bagaimana perasaan mu sekarang ? " 

Kenzi berkaca-kaca. Setengah berbisik ia kata, "bu, jangan tinggalkan aku. Maafkan aku selalu menyusahkan ibu "

Berdua mereka menangis berpelukan.




Kamis, 10 Juli 2025

UNMEi 17

Di hari ketujuh koma, Kenzi akhirnya membuka mata. Mengerjapkan netra yang tak pernah terbuka selama seminggu sungguh suatu hal yang berat bagi Kenzi. Perlahan dia kumpulkan kesadaran. 

Ruangan serba putih. Bau khas suatu tempat. Dingin nya mesin pendingin ruangan mulai terasa menyapa. Menoleh kiri kanan. Ada seseorang disebelah kanannya, perempuan. Duduk menelungkup sambil memegang tangan yang terpasang infus. Rupanya orang ini tertidur. 

Pelan Kenzi menggerakkan tangannya, berusaha memberitahu kalau dia sadar. 

Perempuan itu pelan terbangu. Menengadahkan kepalanya. Melihat Kenzi. 

"Anakku. Kau sudah sadar?"

"Ma... Mama.."

"Iya, nak. Mama di sini, sayang."

Kenzi ingin bangun. Tapi badannya tak bisa digerakkan. Rasa kaku menyergap tiba-tiba. 


Rabu, 09 Juli 2025

Selasa, 08 Juli 2025

UNMEi 15

Kenzi terpental kenpinggir trotoar. Pingsan. Sedangkan Aichiro sensei jatuh tertimpa sepedanya. Kejadian sungguh cepat. Tiba-tiba ambulan sudah datang. Mereka berdua dibawa ke rumah sakit terdekat. 

"Moshi-moshi apakah ini ibunya Kenzi San?" Suara diseberang menghubungi ibu Kenzi berulang kali. Karena nomornya tak dikenal, ibu Kenzi tak mengangkatnya. Takut penipuan. Namun dering telepon tak berhenti. Terpaksa ia angkat juga.

"Hai. Iya benar. Ini siapa?" 

"Kami dari kepolisian. Anak ibu kecelakaan. Sekarang ada di rumah sakit daigakku. Silakan datang,"

"Apa??? Anak saya kecelakaan? Anda tau nomor saya darimana?"

"Korban yang ditabrak adalah gurunya sendiri. Saya tau nomor anda dari gurunya, Aichiro sensei,"

"Ta Tuhan Kenzi. Apalagi yang terjadi? Belum juga selesai kasus di sekolah. Sekarang sudah ada lagi. Tuhan berilah hamba kekuatan."

***

Secepat kilat, ibu Kenzi menelepon suaminya. Berdua mereka pergi ke rumah sakit. Sesampainya di UGD mereka bertemu Aichiro sensei.

"Sensei, sumimasen. Kenzi San, apakah ia baik-baik saja? Gomennasai. Maaf. Sudah merepotkan anda. Bagaimana keadaan sensei?"

"Saya baik. Hanya lecet sedikit. Waktu itu saya baru saja keluar dari sekolah. Hendak berbelok. Tiba-tiba Kenzi datang dari arah yang berlawanan. Kencang sekali. Kami tak bisa menghindar. Beruntung saya selalu pelan. Kelihatannya Kenzi  parah. Saya ga tau dia ada dimana. Mungkin di ICU. Cobalah tanya pada perawat "

***

"Ibu, putra anda gegar otak ringan. Hingga sekarang belum sadar. Jika anda ingin masuk, bisa bergantian. Mohon tidak berisik,"


Minggu, 06 Juli 2025

UNMEI 14

Bunda Sizuka datang ke sekolah pagi itu. Di ruang BK, Aichiro sensei sudah menunggu. Panjang kali lebar kali tinggi bunda Sizuka mendengarkan penjelasan. Bahwa Kenzi telah melakukan banyak hal yang melanggar aturan. Mengelus dada, hanya itu yang bisa dilakukan sambil merapal doa dalam hati, berharap Kenzi segera sadar.

"Bunda Sizuka, apakah ada yang mau disampaikan?" Aichiro sensei bertanya sebelum mengakhiri pertemuan. 

"Iya sensei. Mohon maaf atas semua kesalahan anak saya. Mohon terus dibimbing agar anak ini tak salah arah. Kami di rumah sudah berusaha keras mendidik, mengarahkan Kenzi. Saya dan ayahnya taknpernah berhenti berdoa. Memang saya ini bukan ibu kandungnya. Tapi saya sudah menganggap Kenzi seperti anak kandung sendiri. Kelas 5 SD saya baru bergabung di keluarga ini setelah ibunya Kenzi meninggal dunia saat Kenzi TK. Ia sepertinya tak ingin ada yang menggantikan posisi ibunya. Sekeras apapun saya berusaha mendekat, hanya hardikan yang saya dapat. Tak mau didekati. Ayahnya memang keras. Mereka berdua tak pernah akur. Saya ditengahnya. Kadang bingung siapa yang harus dibela. Membela Kenzi, musuh saya suami sendiri. Membela ayahnya, saya jadi makin dibenci."

"Bunda Sizuka, saya turut prihatin. Maka dari itu mari kita bersama-sama mendidik Kenzi agar menjadi orang sukses."

***

Pulang sekolah, Kenzi langsung menyambar sepeda motor nya. Seperti orang kesurupan, tergopoh-gopoh ia melarikan kuda besi nya berbelok di tikungan. Brakkk!!! Kenzi menabrak Aichiro sensei yang saat itu hendak menyeberang. 

Sabtu, 05 Juli 2025

UNMEI 13

Kenzi kembali memasuki kelasnya dengan riang gembira, seolah tak menyimpan prahara. Seharian itu wajahnya sumringah. 

"Kau kenapa, Ken? Kulihat wajahmu ceria hari ini. Ada apa? Tak biasanya," Junko memberanikan diri bertanya.

"Besok bunda dipanggil ke sekolah," ucap Kenzi enteng.

"Haaaa??? Kau bikin kasus lagi?
Kenapa kau ini selalu menyusahkan banyak orang?" 

"Biarin aja. Siapa suruh menikah sama ayahku. Masa mau bapaknya ga mau anaknya?"

"Dosa tau ga, Ken?" 

"Halah dosa apanya. Ini kan bagian dari tanggung jawab dia mengambil alih posisi mama,"

"Tapi kan mamamu susah tiada, Ken?

"Siapa bilang mamaku sudah ga ada? Jaga mulutmu Jun. Sudahlah aku gamau kita bertengkar gegara hal sepele kayak gini,"

Kenzi tak ingin posisi ibu kandungnya terganti. Baginya, sang mama masih hidup, ada bersamanya. Namun sang ayah tega mencari pengganti tanpa konfirmasi. Ia marah, sedih, sedalam-dalamnya, tapi tak pernah ada kesempatan mengungkapkan perasaan. Akhirnya ia membuat ulah untuk mencari perhatian.

***

Sesampainya di rumah. 

"Bun, besok ada panggilan ke sekolah. Nih suratnya,"

"Astaghfirullah Kenzi San, ada apa lagi ini? Tak cukupkah kasusmu di SMP kemarin? Bunda sudah capek,"

"Ya sudah kalo gitu ga usah datang aja," 

Kenzi menjawab enteng, sambil berlalu ke kamarnya, membuka pintu lalu mengunci diri di kamar hingga saat makan malam tiba.

Rasa malas bertemu orang rumah tiba-tiba datang, menghantui bagai mimpi buruk. Kenapa tak ada yang mau memahami perasaan nya.  Dia ingin didengar. Ingin diajak bicara. Ingin dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Tapi sejauh ini apa yang didapat? Hanya perintah layaknya wajib militer. 

Jumat, 04 Juli 2025

UNMEI 12

"Kenzi San, kau ini kenapa selalu bikin masalah saja. Belum selesai masalah satu, berulah lagiyang lainnya," Aichiro sensei mengawali paginya dengan ceramah panjang tentang nabi-nabi. 

Kenzi duduk diam tak membantah perkataannya. Ia masih menghormati Aichiro sensei karena gurunya yang satu ini sudah tua. 

"Dengan sangat terpaksa, kami harus memanggil orang tuamu Kenzi. Beritahu ibumu, esok kami tunggu di ruangan ini jam 8 pagi,"

"Ibu yang mana, sensei?"

"Maksudmu apa?"

"Iya ibu yang mana? Kalo mama  kandung saya, sudah lama meninggalkan dunia ini. Sejak saya SD. Kalo mamak, ia sebenarnya nenek saya, yang merawat sejak mama pergi. Kalo bunda, dia istrinya papa yang kedua,"

"Jadi ibumu sudah tiada, nak?"

Aichiro sensei terdiam tanpa kata.

"Baiklah, esok bundamu yang datang."

Kamis, 03 Juli 2025

UNMEI 11

Dibalik kegarangan hatinya, lubuk hati Kenzi sadar betul ia salah. Ia tengah mengkhianati nurani. Namun ego kembali berbisik mesra, mengalun membela salahnya. Perang berkecamuk hingga ia tiba di depan ruang kelas.

"Sumimasen sensei, saya tadi barusan dipanggil Aichiro sensei di ruang BK," ucap Kenzi melihat Masako sensei sedang mengajar Matematika, pelajaran yang ia suka.

"Masuklah Kenzi San. Mari duduk. Lekas buka bukumu halaman 57," Masako sensei berkata.

Masako sensei adalah guru kesukaan Kenzi. Ia sangat suka pelajaran Matematika yang dibawakan Masako sensei. Dan lagi, Masako sensei orangnya asyik, pintar mengajar, juga cantik, sedap dipandang.

Selama pelajaran berlangsung, Masako sensei tak sekalipun bertanya atau menyinggung soal Kenzi yang dipanggil ke BK. Ia seperti tak tahu apa-apa. Padahal faktanya, tak mungkin berita Kenzi luput dari telinga siapapun di SMA Kanagawa.

Jam Matematika habis. Masako sensei berpamitan. Tiba di dekat pintu, tiba-tiba ia kembali dan memanggil Kenzi. 

"Kenzi San bisa kemari sebentar?" panggilnya.

"Kenzi San, saya percaya kami adalah anak yang baik. Kamu sudah dewasa. Saya yakin kamu bisa membedakan mana benar dan yang salah. Ikuti kata hatimu. Jangan biarkan kejahatan menguasaimu. Sensei doakan kamu menjadi orang yang sukses," lembut penuh kasih ibu gaya bicara Masako sensei. Beda banget dengan waktu mengajar tadi.

Kenzi menunduk dalam. Bicara empat mata model kayak begini saja dengan Masako sensei bisa membuat hatinya luluh.
Tapi dengan Rika sensei? Kenzi masih menyimpan dendam karena merasa dipermalukan didepan semua teman.
***

Esok harinya, Kenzi datang lebih awal dengan Junko, sang kekasih. Senyum lebar menghias wajah gantengnya yang menawan. Hidung mancung, lesung pipit. Membuatnya semakin menjadi idola.

"Kenzi San, kau dipanggil ke ruang BK," tergopoh-gopoh setengah berlari, Sinosuke mengabarkan. 

Kenzi tertawa tiba-tiba. Dengan bahagia ia menuju ruang BK. Sepertinya mereka sudah tahu perbuatannya. Kemarin Kenzi menyelinap ke kamar mandi guru. Menuliskan di cermin, "Dasar perempuan tua ga laku2. Makanya gausah kepo," ditujukan pada Rika sensei. 

"Kenzi-san, masuk. Apa yang kau lakukan kemarin sepulang sekolah? Kami menemukan hasil karyamu di cermin kamar mandi guru. Maksudmu apa?" 

"Aku sakit hati, tidak terima dipermalukan di depan kelas seperti itu."


Rabu, 02 Juli 2025

UNMEI 10

Kenzi kembali ke kelas. Emosinya belumlah padam. Ia paham, kalau baru melukai perasaan gurunya

Selasa, 01 Juli 2025

UNMEI 9

Kenzi langsung berdiri saat melihat Rika sensei datang. rupanya ia masih menyimpan sakit hati. Rasa yang ia mulai sendiri, tanpa ada awal mulanya. 

"Aichiro sensei, saya pamit. Saya mau kembali ke kelas. Saya ga mau ketemu sama orang yang suka kepo."

Lagi-lagi Rika sensei dibuat melongo. Hellooo...siapa yang salah disini? Mana pelaku mana yang korban. Kenapa jadi terbalik begini. Tak habis pikir Aichiro sensei dan Rika sensei. Berdua mereka hanya saling bicara lewat pandangan mata. Tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.